Contoh Pembukaan Pengajian bagi MC

PEMBUKAAN

Assalaamu’alaikum WR.WB

Kepada yang Kami hormati

Bp.Kepala Desa Selopa Bp. Sukro jono

Bp. Kepala Dukuh Nawung Bp. Sumad

Hadhirin-Hadhirot Rokhimakumulloh.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji Syukur kita keHadirat Alloh SWT yang telah memberi Rahmat dan Karunian-Nya sehingga kita dapat berkumpul di Majlis ini.

Sholawat dan salam mari kita sanjungkan kepada Rosululloh SWA ynag kita nantikan Syafa’atNya di Hari Kiamat.

PEMBACAAN AGENDA

Sebelum acara dimulai, perkenankanlah saya untuk membacakan urutan acara pada acara pengajian ini:

Pertama PEMBUKAAN

Kedua pembacaan kalam Ilahi dan Sari Tilawah

Ketiga Sambutan-Sambutan

Keempat Istirahat

Selanjutnya yaitu pengajian

Dan yang terakhir Penutup

MEMBUKA ACARA

Hadhirin Hadhirot yang Kami hormati, mari acara pada malam ini kita buka dengan bacaan BASMALLAH/UMMUL KITAB AL-FATIKHAH

MEMPERSILAHKAN SAMBUTAN / MENGISI PENGAJIAN [ucapan terima kasih]

Bapak Ibu Hadhirin yang Kami Hormati, acara selanjutnya yaitu Sambutan-sambutan.

Sambutan yang pertama dari Ketua Panitia, Kepada Bapak Sumad kami persilahkan.

Kami ucapkan terima kasih kepada beliau.

Bapak Ibu Hadhirin, demikianlah pengajian pada malam ini. Semoga kita dapat memperoleh hikamah dan dapat melaksanakan apa yang sudak diajarkan oleh Bapak Kyai.

PENUTUP

Sebelum acara saya tutup, perkenankanlah kami disini mengucapkan terimakasih atas kehadiran bapak-Ibu dalam acara pengajian ini. Dan apabila saya dalam membawakan acara terdapat kesalahan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. .

Marilah agar pada malam hari ini kita tutup dengan membaca TAHMID bersama-sama ….

Wassalaamu’Alaikum WR-WB

DUA SYARAT DITERIMANYA IBADAH

Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:

- Ikhlas karena Allah.

- Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).

Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak. Berikut kami sampaikan bukti-buktinya dari Al Qur’an, As Sunnah, dan Perkataan Sahabat.

Dalil Al Qur’an

Dalil dari dua syarat di atas disebutkan sekaligus dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya :

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”  [ Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah.]

Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah, yang artinya :

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (sesuai apa yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Lalu Al Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [ Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H.]

Dalil dari Al Hadits

Dua syarat diterimanya amalan ditunjukkan dalam dua hadits. Hadits pertama dari ‘Umar bin Al Khottob, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena  Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pen)”.[ HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907.]

Hadits kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.[ HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718.]

Dalam riwayat Muslim disebutkan, yang artinya

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.[ HR. Muslim no. 1718.]

Dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.”  [ Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77.]

Di kitab yang sama, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Suatu amalan tidak akan sempurna (tidak akan diterima, pen) kecuali terpenuhi dua hal:

  1. Amalan tersebut secara lahiriyah (zhohir) sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Aisyah ‘Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.
  2. Amalan tersebut secara batininiyah diniatkan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Umar ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat’.” [ Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 20.]

Perkataan Sahabat

Para sahabat pun memiliki pemahaman bahwa ibadah semata-mata bukan hanya dengan niat ikhlas, namun juga harus ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai dalilnya, kami akan bawakan dua atsar dari sahabat.

Pertama: Perkataan ‘Abdullah bin ‘Umar.

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.[ Diriwayatkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah ‘an Ushulid Diyanah, 2/212/2 dan Al Lalika’i dalam As Sunnah (1/21/1) secara mauquf (sampai pada sahabat) dengan sanad yang shahih. Lihat Ahkamul Janaiz wa Bida’uha, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 285, Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1412 H.]

Kedua: Kisah ‘Abdullah bin Mas’ud.

Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

Diriwayatkan oleh Ad Darimi (1/79), Al Bazzar (Tarikh Wasith 1/198) dari ‘Amru bin Salamah Al Hamdani, katanya:”Kami pernah duduk di pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu sebelum shalat zhuhur. Kalau dia keluar, kami berangkat bersamanya menuju Masjid. Tiba-tiba datanglah Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu sambil berkata:”Apakah sudah keluar bersama kalian Abu ‘Abdirrahman? Kami katakan:”Belum.” Tatkala beliau keluar, kami berdiri, dan Abu Musa berkata:”Ya Abu ‘Abdirrahman, sungguh aku baru saja melihat sesuatu yang pasti kau ingkari di Masjid itu. Dan saya tidak melihat –alhamdulillah- kecuali kebaikan.”

Ibnu Mas’ud berkata:”Apa itu?” Katanya pula:”Kalau kau panjang umur akan kau lihat pula sendiri. Saya lihat di masjid itu sekelompok orang dalam beberapa halaqah sedang menunggu shalat, dan masing-masing halaqah dipimpin satu orang, di tangan mereka tergenggam kerikil, dia berkata:”Bertakbirlah seratus kali!” Maka yang lain pun bertakbir seratus kali. Pemimpinnya mengatakan:”Bertahlil seratus kali!” Merekapun bertahlil (mengucapkan laa ilaaha illallaahu). Pemimpinnya mengatakan:”Bertasbihlah seratus kali!” Merekapun bertasbih seratus kali. Ibnu Mas’ud bertanya:”Lalu apa yang kau katakan kepada mereka?”

Abu Musa berkata:”Saya tidak mengatakan sesuatu karena menunggu pendapatmu.”

Ibnu Mas’ud berucap: “Mengapa tidak kau perintahkan mereka menghitung dosa-dosa mereka, dan kau jamin tidak akan hilang sia-sia kebaikan mereka sedikitpun?”

Kemudian dia berjalan, dan kami pun mengikutinya sampai tiba di tempat halaqah-halaqah itu. Beliau berhenti dan berkata:”Apa yang sedang kalian kerjakan ini?”

Mereka berkata:”Ya Abu ‘Abdirrahman, kerikil yang kami gunakan untuk bertakbir, bertahlil dan bertasbih.” (untuk menghitung bilangan takbir, tahlil & tasbih)

Beliau berkata:

“Coba kalian hitung dosa-dosa kalian, saya jamin tidak akan hilang sia-sia kebaikan kalian sedikitpun. Celaka kalian, wahai ummat Muhammad! Alangkah cepatnya kalian binasa., mereka para sahabat Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, masih banyak di sekitar kalian. Pakaian beliau belum lagi rusak, mangkok-mangkok beliau beliau belum lagi pecah. Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya. Sesungguhnya kalian ini berada di atas millah (ajaran) yang lebih lurus daripada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, ataukah sedang membuka pintu kesesatan?”

Mereka berkata:”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan.”

Beliau berkata:”Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak pernah mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menyampaikan kepada kami satu hadits, kata beliau:

Sesungguhnya ada satu kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka lepas dari Islam seperti lepasnya anak panah dari sasarannya.”

Demi Allah, saya tidak tahu, barangkali sebagian besarnya adalah dari kalian.” Kemudian beliau berpaling meninggalkan mereka.

‘Amru bin Salamah mengatakan:”Sesudah itu kami lihat sebagian besar mereka ikut memerangi kami di Nahrawand bersama Khawarij.” (Ash Shahihah no 2005).

Perhatikanlah bagaimana sikap sahabat yang mulia ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu yang mengingkari halaqah (majelis dzikir) tersebut di masjid. Apakah kita mengira bahwa beliau mengingkari amalan dzikrullah dan mengingkari majelis dzikir ini, atau apakah kita menyangka bahwa beliau Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu mengingkari tahlil, tasbih dan takbir? Apakah pantas kita katakan bahwa sahabat yang mulia ini mengingkari orang-orang yang ingin beribadah dan berlomba-lomba kepada kebaikan?

Tentunya, sekali-kali tidak demikian. Hal itu tidaklah diingkari oleh ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu. Dan bagaimana mungkin beliau mengingkarinya, sementara beliau termasuk rawi yang banyak menyampaikan hadits-hadits tentang keutamaan (fadlilah) tasbih, tahlil dan takbir.

Adapun yang ditentang oleh Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu adalah tata caranya yang dilakukan secara berjama’ah dengan suara keras, dipimpin seorang amir (pemimpin, pengatur) yang memerintahkan mereka demikian. Kemudian ditambah lagi mereka menggunakan kerikil-kerikil untuk menghitung jumlah dzikir yang telah ditentukan, di mana tidak pernah dikerjakan seperti itu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya.

Dan tidak cukup dengan alasan mereka bahwa niat mereka baik. Beliau membantah dengan ungkapan yang sangat tepat yang selaras dengan prinsip pokok dan kaidah (pedoman) yang ditetapkan oleh syari’at yang mudah ini, kata beliau:  “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: yang artinya

“Katakanlah:”Maukah kamu, kami terangkan tentang orang-orang yang paling merugi amalannya, sia-sia usaha mereka di dunia, dalam keadaan mereka menyangka telah berbuat sebaik- baiknya.” (QS. Al Kahfi 103)

Sehingga tidaklah tepat perkataan sebagian orang ketika dikritik mengenai ibadah atau amalan yang ia lakukan, lantas ia mengatakan, “Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing”, atau perkataan “ah yang pentingkan niatnya.” Ingatlah, tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki (sesuai) ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga dalam beramal haruslah berdasakan dalil yang shohih, tidak boleh kita bertaklid (mengekor) kepada seorang ulama, kyai, ustadz, tanpa kita mengetahui dari mana mereka mengambil pendapatnya.

Imam Ahmad bin Hambal berkata : “ Jangan engkau bertaklid kepadaku atau Imam Syafi’I atau Imam Auza’I atau Imam Ats-Tsaury tapi ambilah dari mana mereka mengambil.”

Sebab-sebab Munculnya Amalan Tanpa Tuntunan

Pertama: Tidak memahami dalil dengan benar.

Kedua: Tidak mengetahui tujuan syari’at.

Ketiga: Menganggap suatu amalan baik dengan akal semata.

Keempat: Mengikuti hawa nafsu semata ketika beramal.

Kelima: Berbicara tentang agama tanpa ilmu dan dalil.

Keenam: Tidak mengetahui manakah hadits shahih dan dho’if (lemah), mana yang bisa diterima dan tidak.

Ketujuh: Mengikuti ayat-ayat dan hadits yang masih samar.

Kedelapan: Memutuskan hukum dari suatu amalan dengan cara yang keliru, tanpa petunjuk dari syari’at.

Kesembilan: Bersikap ghuluw (ekstrim) terhadap ulama, kyai,ustadz tertentu. Jadi apapun yang dikatakan panutannya (selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), ia pun ikuti walaupun itu keliru dan menyelisih dalil.

Inilah di antara sebab munculnya berbagai macam amalan tanpa tuntunan (bid’ah) di sekitar kita.

Dikutip dari www.rumaysho.com (dengan penambahan)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.